ARTICLE AD BOX
Menurut Wakil Ketua ST Taruna Jaya, I Gede Ocha Kurnia Putra, Kala Ludra mengisahkan pertemuan Dewa Siwa dan Dewi Durga di kuburan yang kemudian melahirkan sosok Bhuta Kala. Proses pembuatan ogoh-ogoh ini menghadirkan tantangan tersendiri, khususnya dalam hal konstruksi.
"Tahun ini tantangan terbesar kami ada di struktur ogoh-ogoh, terutama pada bagian Durga yang dirancang dengan sistem bongkar pasang. Selain itu, rangka besi yang digunakan agak lemah untuk menopang beban," ujar Ocha.
Berbeda dengan tahun sebelumnya, ogoh-ogoh yang dibuat ST Taruna Jaya kali ini menggunakan bahan baru sepenuhnya, tanpa memanfaatkan material dari ogoh-ogoh sebelumnya. Dengan anggaran berkisar Rp20-25 juta, mereka berhasil menyelesaikan karya ini dan turut serta dalam ajang tarung bebas pada Kasanga Festival.
Ocha juga menyoroti pentingnya melestarikan gamelan tradisional dalam pengarakan ogoh-ogoh. "Kami berharap gamelan baleganjur tetap lestari. Kalau ogoh-ogoh mendapatkan sentuhan teknologi, biarlah gamelan tetap dipertahankan dalam bentuk aslinya," tegasnya.
Terkait konsep tarung bebas di Kasanga Festival, Ocha melihatnya sebagai pedang bermata dua. "Dari sisi positif, ini membuka peluang bagi Sekaa Teruna untuk berkarya dan masuk nominasi. Namun, dari sisi lain, banjar-banjar dengan dana terbatas harus berjuang lebih keras mencari modal agar bisa bersaing, meskipun ada bantuan," katanya.
Meskipun penuh tantangan, Ocha berharap ke depannya tradisi ogoh-ogoh tetap berkembang tanpa menghilangkan esensi budaya dan kebersamaan yang melekat dalam proses pembuatannya. *m03